MAJAS

Selasa, 02 November 2010

BATIN PANGAN


Pangan merupakan bagian tak terpisahkan dalam pemenuhan kebutuhan hidup pokok manusia. Berbagai jenis makanan dan minuman diproduksi dan kita konsumsi setiap hari. Betapa dekat dan tak terpisahkannya pangan dengan kita, mengilhami Yonathan Rahardjo menulis puisi-puisi yang langsung berjudul nama makanan dan minuman.
Dengan menempatkan nama ‘diri’ pangan itu pada judul sajak-sajaknya, ada suatu harapan, bahwa pangan itu akan berbicara kepada kita –-apapun materi dan maknanya-- dengan segenap kedaulatannya, terurai pada isi puisi.
Kedaulatan Pangan yang berbicara atas nama batin dan pandangannya sendiri, adalah antitesa terhadap sikap tunggal manusia terhadap pangan hanya berfungsi sebagai pemuas rasa lapar dan pemasok gizi hidup belaka. Dengan pangan, kebutuhan kita dipenuhi bukan hanya yang bersifat fisik, tapi juga batin.
Nilai batiniah dalam pangan konsep Yonathan antara lain dipublikasikan pada 2003 dalam Antologi Puisi Bisikan Kata Teriakan Kota oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pecel Lele dan Siomay adalah dua judul puisinya pada antologi puisi itu.
Salah seorang yang memberikan perhatian besar pada eksistensi puisi pangan Yonathan adalah penyair Binhad Nurrohmat yang terus mengingatkan pembaca akan makna penting Sajak-sajak Kedaulatan Pangan Yonathan Rahardjo dalam peta sastra Indonesia.
Perhatian Binhad, antara lain dipublikasikan pada 1 Mei 2004 di Fajar Banten dengan tulisannya: “...Yonathan meski secara tersamar sebenarnya menunjukkan suatu komitmen sosial juga (puisi “Bukan Serabi Bandung...)”
Terkait nilai yang tampak dari puisi Yonathan Rahardjo seperti “Bukan Serabi Bandung” ini, Sinar Harapan 2004 menulis, “...Yonathan menggali ide batu yang sederhana, suatu gurauan serius dengan logika anak muda yang hendak bebas berkreasi. Coba simak sajaknya yang berjudul “Bukan Serabi Bandung...”
Mengingatkan kita tentang makna penting sajak-sajak pangan Yonathan, antara lain ditulis oleh Sastrawan Maroeli Simbolon pada Sinar Harapan dan Lampung Post 2004.
Tulis Maroeli di situ, “... Dan teman-teman seniman bertepuk tangan. Sebaliknya, ingatan saya segera tertuju kepada dua penyair muda berbakat besar, yang mengekspresikan pendapat Tardji (penyair Sutardi Calzoum Bahri) –dengan pendekatan lain. Yonathan Rahardjo sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.”